Seandainya Seluruh Dunia Rayakan Nyepi?

Kamis, 03 Maret 2011

Sebuah Khayalan Menjelang Petang

AWAL mula postingan ini sejatinya tulisan status saya di Facebook. Saya membayangkan, bagaimana seandainya Hari Raya Nyepi yang selama ini dirayakan hanya di Bali saja, ternyata dirayakan di seluruh dunia. Kalau semuanya merayakan Nyepi, artinya seluruh aktivitas di berbagai belahan bumi stop selama 24 jam.

Ketika sampai pada bayangan bahwa seluruh aktivitas di dunia ini bakal terhenti selama 24 jam, saya belum sempat berpikir berapa persen energi yang mungkin bisa dihemat. Berapa persen pula polusi yang bisa dikurangi. Dan, berapa persen juga penyakit jiwa yang bisa diredam. Soalnya, saya sendiri tidak punya gambaran jelas mengenai itu semua. Karena memang saya tidak punya data. Apalagi melakukan survei secara langsung.

Tapi, kebiasaan mengkhayal yang sejak SD sudah biasa saya lakukan rupanya mendorong saya untuk merenung lebih dalam. Saya pun mengabaikan angka-angka dan langsung pada kesimpulan bahwa pasokan energi di bumi semakin langka. Sebaran polusi di bumi makin merajalela. Penyakit jiwa yang dialami seluruh umat manusia makin beragam jenisnya. Seperti ditulis di media di seluruh dunia. Atau, seperti yang dikatakan para pengamat atau aktivis lingkungan hidup.

Begitu pikiran singkat itu tergelar, saya pun berpikir bahwa Nyepi itu ternyata penting sekali. Karena tidak boleh beraktivitas, kita tidak mungkin ke luar rumah. Karena tidak mungkin keluar rumah, sepeda motor parkir di rumah. Karena sepeda motor di rumah, kita tidak perlu ke Pertamina. Karena tidak perlu ke Pertamina, kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli bensin yang memang semakin sulit didapat.

Masih karena sepeda motor parkir di rumah, asapnya nggak mungkin keluar dari knalpotnya. Pastinya juga, tidak ada asap yang membumbung ke langit. Karena tidak ada asap yang membumbung ke langit, artinya langit yang selama ini kusam akan tampak cemerlang. Langit yang selama ini kutek akan tampak biru jernih.

Itu baru sepeda motor karena kita tidak boleh berpergian (amati lelanguan). Ada juga Brata Penyepian lainnya yakni amati geni (tidak menyalakan api atau sumber cahaya). Karena larangan itu, televisi mati. Karena televisi mati, artinya listrik tak mengalir. Karena listrik tak mengalir, perusahaan listrik bisa menghemat penggunaan energi yang biasa dipakai untuk menciptakan atau membangkit potensi energi. Ketika sampai ke titik ini, lagi-lagi polusi bisa ditekan persentasenya.

Selain amati lelanguan dan amati geni, ada lagi amati karya atau tidak melakukan aktivitas. Sebetulnya, dengan kondisi kita tidak boleh pergi, kita sebetulnya sudah tidak bisa melakukan aktivitas seperti hari-hari biasanya. Dalam kondisi jeda dari berbagai aktivitas, kadar stres orang bisa dikurangi. Kenapa dikurangi, karena saya yakin, diam tanpa melakukan apapun sebetulnya bisa menimbulkan stres yang disebabkan karena bosan. Tapi, kadar stresnya tidak separah saat kita melakukan aktivitas sehari-hari.

Kita bisa bayangkan, ketika sehari-harinya kita disibukan dengan pekerjaan atau tugas kita, tingkat stresnya kadang membuncah. Apalagi mereka yang punya darah tinggi, biasanya cepat emosi. Bawaannya, hanya marah-marah saja. Yang patut dikhawatirkan, ketika seseorang tak mampu mengendalaikan emosinya, justru menjadi bibit penyakit lainnya. Entah stroke, jantung, atau yang paling celaka, GILA. (Saya buat kapital, soalnya di RSJ Bangli kabarnya sudah overload).

Bayangkan, berapa energi yang ada pada dirinya terbuang percuma karena amarah. Begitu juga kesedihan atau kegembiraan. Kalau sudah ke titik ini, kita kembali lagi ke soal penghematan energi.

Nah, itu baru contoh-contoh yang keluar dari imajinasi saya. Khayalan saya semata. Tapi, kalau dihitung-hitung ternyata ada manfaatnya buat dunia yang sudah jenuh dan kerepotan dengan maunya umat manusia.

Tapi, saya juga tidak mau takabur dengan khayalan saya. Saya tahu, sulit sekali itu bisa terjadi. Ini tergantung kemauan bangsa manusia yang salah satu sifat manusiawinya selalu ingin nyaman. Pastinya, khayalan saya itu bakal kandas karena sifat manusiawi itu sendiri. Yang, ternyata ada juga pada diri saya.

Belum lagi, ini ada kaitannya dengan good will (bahasa seramnya itikad atau kemauan) dari masing-masing kepala daerah yang tentunya berjalan dengan ideology negaranya masing-masing. Termasuk visi misinya sebagai kepala daerah di negaranya masing-masing. Entah itu, mempertahankan statusnya sebagai negara kuat, adidaya, digjaya, atau apalah.

Atau, sibuk membangun kekuatan ekonomi lewat jalur industrialisasi yang boros energi agar kelak negaranya memiliki kekuatan. Atau, ada pula pemimpin negara yang suka tebar pesona. Atau, ada pula kepala negara yang sedang berusaha melanggengkan kekuasaannya sehingga terpilih lagi dalam pemilu berikutnya.

Saya yakin khayalan saya ini akan sulit sekali terjadi. Tapi, saya kan manusia juga, boleh dong kalau saya mengkhayal. He he he…(*)

Selengkapnya

Valentine untuk Si Yatim dan Papa

Rabu, 02 Maret 2011

Seperti di Bioskop
PEBRUARI 2011 memang sudah lewat. Tak banyak kegiatan yang digelar di Karangasem. Terkecuali, perayaan Valentine Day yang dilakukan anak-anak muda setempat. Saat perayaannya, suasana Kota Amlapura memang agak lain dari biasanya. Keramaian pada malam hari yang biasanya terbatas sampai pukul 20.00, saat itu justru bertahan sampai pukul 21.00.

Tapi, saat itu ada yang jauh lebih berbeda tinimbang geliat aktivitas anak muda yang meramaikan Kota Amlapura. Sehari sebelumnya, Minggu (13/2), seluruh anak yatim piatu tumpah ruah di Ballroom 27 Enterprise, Hardy’s Karangasem. Mereka berbaur pula dengan anak-anak dari keluarga papa atau tidak mampu.

Waktu itu, salah satu radio swasta di Karangasem, Oejoeng FM sedang bekerja sama komunitas wartawan saban hari ngetem di Karangasem dan menamakan dirinya Aliansi Jurnalis Karangasem (AJK). Keduanya berkolaborasi membentuk sebuah acara kecil-kecilan yakni nobar (nonton bareng) film Denias, Senandung di Atas Awan.

Ceritanya sih, acara itu untuk merayakan Valentine Day yang akan jatuh keesokan harinya. Nah, anak-anak yatim piatu dan dari keluarga kurang mampu itulah yang menjadi obyek acara lumayan dadakan itu.

Sebagian besar anak-anak yang diundang itu merupakan asuhan Yayasan Yasa Kerti, Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A), anak-anak Pesraman Tohpati. Serta, beberapa anak-anak berprestasi tapi berasal dari keluarga kurang mampu.

Menurut salah satu Empunya Gawe, nobar itu memang digelar sebagai perayaan Hari Kasih Sayang. Hanya saja, kegiatan itu lebih diarahkan pada anak-anak yatim piatu dan berasal dari keluarga kurang mampu. Itu sebabnya, dalam nobar itu, film yang diputar Denias, Senandung di Atas Awas. Film made in Indonesia besutan Sutradara John de Rantau yang sarat nilai edukasi dan inspirasi.

Tujuan akhir dari pemutaran film tersebut tak lain memotivasi para anak yatim piatu dan kurang mampu agar tetap percaya diri. Tidak minder atau merasa rendah diri serta lebih optimis menapaki jalan kehidupan yang ada di depannya. Sehingga, mereka pun sanggup berprestasi dan mampu menjadi orang-orang yang mandiri. (*)

Selengkapnya

Menengok Klebutan Toya Masem (2-habis)

Selasa, 13 April 2010

Airnya Diyakini Punya Khaziat Menyebuhkan Penyakit


Percaya tidak percaya, air di Klebutan Toya Masem memang punya rasa yang aneh. Konon keanehan rasa air itulah yang membuat beberapa orang luar Karangasem mendatangi mata air ini. Untuk apa ya?

RASA masam setelah menenggak air tersebut masih terasa. Sementara Panda melanjutkan ceritanya mengenai mata air yang ada di banjarnya tersebut. Menurutnya, rasa air yang aneh tersebut tak jarang mendorong beberapa orang dari luar Karangasem datang ke Klebutan Toya Masem. Setiap kali datang, mereka kebanyakan berniat meminta air tersebut untuk dijadikan obat.

“Kebanyakan orang Gianyar, Singaraja, Klungkung, dan Badung. Mereka bilang mau nunas air untuk dijadikan obat,” kata Panda sambil mengusap wajahnya dengan air di klebutan pertama.

Entah khasiat atau unsur apa yang terkandung dalam air tersebut. Panda pun mengaku sama sekali tidak mengetahuinya. Apalagi dia bukan orang berpendidikan tinggi. Namun keyakinan mendorong dirinya percaya bahwa air itu punya khasiat untuk mengobati. “Saya nggak tahu ada apanya. Tapi orang-orang yang datang ke sini bilang manjur. Terakhir yang saya dengar, ada orang yang kena kencing manis sembuh minum air ini,” imbuhnya.

Panda, Sulida, dan koran ini akhirnya melanjutkan perjalanan ke klebutan kedua yang berada sekitar setengah kilo di atas klebutan pertama. Sambil jalan, Panda mengatakan bahwa mata air ini tidak pernah surut. Mengalir terus meski di musim kemarau. Di musim hujan, rasa airnya juga tak mengalami perubahan. “Ada yang bilang mata air ini ada kaitannya dengan Pura Lempuyang,” kata pria berperawakan pendek ini.

Tak berapa lama, kami pun sampai di klebutan kedua. Sayangnya, lokasi klebutan kedua ini agak curam dan labil karena berada di tebing. Koran ini pun agak ketakutan juga untuk menjangkau pancurannya. Karena jalannya cukup lembab dan licin. “Hati-hati, di sini agak licin. Beberapa hari lalu, tanah di atas longsor,” kata Panda.

Dibantu Sulida, pancuran kedua akhirnya bisa dicapai. Tanpa ajakan Panda, koran ini pun mereguk air di klebutan kedua untuk membuktikan rasanya. Kali ini, airnya terasa lebih aneh lagi. Awalnya terasa pahit, namun begitu air sudah melewati kerongkongan rasanya berubah menjadi masam. Lebih masam dari air yang ada di klebutan pertama.

Menurutnya, siapa saja boleh ke klebutan ini. Namun karena statusnya disucikan oleh warga, tentu ada pantangannya. Umumnya, mereka yang tidak boleh datang adalah orang yang sedang kecuntakan. “Biasalah, yang kecuntakan tentu tidak boleh,” kata Panda.

Disinggung mengenai upaya penataan, Panda mengaku sejauh ini masih sedang diupayakan. Itu pun sifatnya swadaya oleh masyarakat setempat. Sedangkan bantuan dari pemerintah sejauh ini belum ada. “Sedang kami upayakan. Tentu swadaya. Kalau dari pemerintah belum ada. Mudah-mudahan, setelah upaya kami tercapai, baru kami meminta bantuan ke pemerintah,” tandas Panda.(air)










Selengkapnya

Menengok Klebutan Toya Masem (1)

Airnya dari Satu Sumber, Tapi Rasanya Ada Lima

Karangasem memang punya banyak lokasi yang layak dijadikan tempat untuk melakukan aktivitas spiritual. Salah satunya Bukit Bangle yang ada di Desa Bunutan, Abang. Di tempat ini, konon ada sumber mata air dengan lima rasa yang berbeda. Dan, Sabtu (10/4) yang lalu, Radar Bali akhirnya berkesampatan singgah ke tempat itu. Benarkah ada sumber mata air dengan lima rasa berbeda?

GUYURAN hujan pada Sabtu (10/4) siang akhirnya terhenti juga. Meski demikian, puncak Gunung Lempuyang masih terlihat kelabu disaput mendung kelam. Di tengah cuaca yang mulai mereda, saya sampai pula di Banjar Bangle yang terletak di Desa Bunutan, Kecamatan Abang.

Banjar yang berada di kaki bukit Bangle ini begitu asri. Dari kejauhan, rumah penduduk yang masih dibangun dengan cara tradisional terlihat begitu uniknya. Berundag-undag mengikuti alur ketinggian Bukit Bangle serta sebagian kaki Gunung Lempuyang.

Tak berselang lama, seorang pemuda bernama I Made Sulida menghampiri. Dia pun menanyakan maksud kedatangan saya. Dan, begitu mengetahui tujuannya adalah melihat Klebutan (mata air) Toya Masem, Made Sulida pun tak keberatan mengantarkan.

Sebelum melangkah ke lokasi klebutan, Sulida mengajak koran ini ke rumah I Nyoman Panda. Pria ini merupakan Kelian Banjar Adat setempat. Masih di rumahnya, Panda membenarkan mata air dengan lima rasa itu benar adanya.

Selesai mengenakan baju, Panda dan Sulida akhirnya menunjukan lokasi mata air tersebut. Jaraknya dari perkampungan sekitar lima kilometer dan hanya bisa dijangkau dengan melalui jalan setapak yang naik turun sungai. Jadi, perlu tenaga ekstra juga untuk sampai ke lokasi mata air tersebut.

Sepanjang perjalanan, Panda banyak bercerita mengenai keberadaan mata air yang juga disucikan warga Banjar Bangle itu. Menurutnya, tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan mata air itu ditemukan pertama kalinya. “Orang mulai sedikit-sedikit tahu sekitar tahun 80-an. Kemungkinan, mata air ini sudah ada jauh sebelum Banjar Bangle ada,” kata Panda.

Menurut Panda, posisi mata air itu berundak-undak. Serta, terpisah dengan jarak yang relatif dekat antara yang satu dengan yang lainnya. Anehnya, dalam jarak yang dekat, rasa dari kelima mata air itu justru berbeda-beda. Dari kolam kelima yang lokasi paling atas, airnya terasa masam. Kemudian di kolam keempat yang terdiri dari dua pancuran, rasa airnya pahit bercampur asam. Di kolam ketiga, airnya terasa pahit. “Sementara yang di kolam pertama, rasanya masam lagi,” jelas Panda.

Oleh warga, air dari klebutan tersebut dipakai untuk melakukan prosesi mesucian. Karena disucikan, tentu di lokasi klebutan tersebut didirikan sebuah pelinggih yang diempon oleh warga setempat. “Upacaranya setiap Purnama Ketiga,” imbuhnya.

Di luar itu, sambungnya, aliran air dari klebutan itu dipakai untuk mengairi persawahan yang ada di bawah kaki Bukit Bangle. Uniknya, rasa air yang aneh dari klebutan tersebut justru membuat subur padi yang ditanami warga di bawah kaki bukit. “Khusus untuk padi saja. Kalau tanaman yang lain, pasti akan menguning,” tuturnya.

Setelah lelah berjalan kurang lebih 30 menit, akhirnya mata air pertama berhasil terjangkau. Panda dan Sulida yang tampak kelelahan berjalan langsung menyerbu pancuran di mata mata air pertama itu. Bahkan, Panda terlihat begitu semangatnya meneguk air di klebutan pertama yang rasa masam tersebut. “Ayo ke sini. Coba saja, nggak apa,” ajaknya.

Mendapat ajakan seperti itu, saya pun mencoba air yang ditadah dengan tangan. Apa yang dikatakan, bahwa air di klebutan pertama rasanya masam ternyata benar adanya. Rasa asamnya akan semakin terasa ketika air sudah melewati rongga mulut sehingga lidah terasa kesat.(air)

Selengkapnya

Blog Apaan Nih?

Tidak Ada yang Istimewa. Memang begitulah blog ini. Blog ini cuma memang untuk  menyampaikan isi kepala saja. Sampah-sampah pikiran yang mungkin masih bisa didaur ulang. Bukankah, daur ulang sangat diperlukan untuk mengurangi timbunan sampah di seluruh permukaan bumi. Akibat aktivitas manusia. Ah, sudahlah. Tidak perlu bersusah hati, apalagi membaca blog ini dengan segala teori-teori. Baca apa adanya saja. OK

Siapa Si Ragil?

Bali, Indonesia
Si Ragil, tokoh fiktif yang bukan siapa-siapa. Dia ada di sela-sela kehidupan. Dia hanya bisa mendengar, melihat, dan merasakan. Seperti yang dia tuangkan dalam blog yang juga menjadi rumahnya di dunia maya.

  © Blogger template Brownium by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP